Sholatun Bissalamil Mubin


Sholatun bisalamil mubin…linugthotit ta’yii ni ya ghoroomii)6X
Nabiyyuna kaana ashlattak wiini….min ngahdi kun fayakuunu yaa ghoroomii(2X)
back to *(2X)
Ayaman ja’ana khakkon nadhiiri…mughiitsan musbilan subularoshaadi(2X)
back to *(2X)
Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah (4X)
Rosulullahiyaa dhowiil jabiini… wayaamanja’abil khakkil mubiin(2X)
back to *(2X)
Sholatulam tazal tutlaa ngalaika…kami’ thorin nasiim tuhdaa ilaika (2X)
back to * (2X)

Makna nya:
Shalawat serta salam ku persembahkan kepada mu wahai kekasih ku
Sebagai bukti keteguhan ku,wahai Nabi saw (kekasih ku)
Engkaulah sebenar2nya pemberi peringatan pada masa mu
Wahai kekasih ku,wahai Rasulullah saw yang bercahaya wajahnya penunjuk jalan kebenaran
Tak lekang sholawat tercurah pada mu wahai pembawa kebenaran,laksana hembusan angin yang kencang.


Sumber: http://kangbudhi.wordpress.com/2011/08/23/lirik-hadroh-%E2%80%93-sholatun-bissalamil-mubin/

Opick, Haji


Intro : Em Dm Am Bm E

             Am           E
* labbaik Allahumma labbaik
                              Am
  labbaikala syarikalaka labbaik
           Am             E
  innal hamda wanni'matalak
                     Am
  walmulkala syarikalak

         Am           E
wahai Allah kami datang
                  Am
Memenuhi panggilanMu
                      E
tiadalah sekutu untukMu
                           Am
segala puji dan kuasa untukMu

         Am            E
kami meraba tanpa cahaya
                          Am
kami yang lupa hina dan papa
          Dm              Am
di hadapanMu yang Maha Indah
           E              Am
di hadapanMu yang Maha Mulia

Balik ke * 3x
Interlude : Dm Am E Am 2x


           Bm          F#
labbaik Allahumma labbaik
                            Bm
labbaikala syarikalaka labbaik
         Bm            F#
innal hamda wanni'matalak
                   Bm
walmulkala syarikalak

           Em          Bm
labbaik Allahumma labbaik
        F#                   Bm
labbaikala syarikalaka labbaik
         Em            Bm
innal hamda wanni'matalak
        F#         Bm
walmulkala syarikalak

Sumber: http://blogmusikku.blogspot.com/2009/08/opick-haji.html



Ibu', Rafly

"Lembut kukenang, kasihmu ibu
di dalam hati ku kini menanggung rindu
kau tabur kasih seumur masa
bergetar syahdu, ooh di dalam nadiku

9 bulan ku dalam rahimmu
bersusah payah, oh ibu jaga diriku
sakit dan lelah tak kau hiraukan
demi diriku, oh ibu buah hatimu

tiada ku mampu, membalas jasamu
hanyalah do’a oh di setiap waktu
oh ibu tak henti kuharapkan do’amu (2x)
mengalir di setiap nafasku (2x)

ibuuuuuuuuuuuuuu……….. (3x)

Lembut kukenang, kasihmu ibu
di dalam hati ku kini menanggung rindu
engkau tabur kasih seumur masa
bergetar syahdu oh di dalam nadiku

indah bercanda denganmu ibu
di dalam hati ku kini slalu merindu
sakit dan lelah tak kau hiraukan
demi diriku, oh ibu buah hatimu

tiada ku mampu, membalas jasamu
hanyalah doa oh di setiap waktu
oh ibu tak henti kuharapkan doamu (2x)
mengalir di setiap nafasku (2x
ibuuuuuuuuuu…….. (3x)

“Allahummaghfirlii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”

Sumber: http://www.facebook.com/filmdelisa/posts/214660561952072

Opick Ft Amanda Satu Rindu

Intro : Bm A Bm A Bm A Bm E

A C#m
Hujan kau ingatkan aku
Bm E
Tentang satu rindu
A C#m
Dimasa yang lalu
Bm E
Saat mimpi masih indah bersamamu

Reff :
D C#m
Terbayang satu wajah
Bm A
Penuh cinta, penuh kasih
D C#m
Terbayang satu wajah
Bm E
Penuh dengan kehangatan

Interlude : D A D E

A C#m
Allah ijinkanlah aku
Bm E
Bahagiakan dia
A C#m
Meski dia telah jauh
Bm E D
Biarkanlah aku berarti untuk dirinya
A D A D
Oh ibu,.,. Oh ibu,.,.,
E
Kau ibu,.,.

Balik ke Reff 2x

D A D
Oh ibu,., kau ibu,.,.
A D A D
Oh ibu,.,., kau ibu,.,.,
A
kau ibu,.,.,

A C#m
Hujan kau ingatkan aku
Bm E
Tentang satu rindu
A C#m
Dimasa yang lalu
Bm E
Saat mimpi masih indah bersamamu
D A D A
Kau ibu,.,., kau ibu,.,.,
D A
Kau ibu,.,.,oh ibu

Sumber: http://kordkuncigitar.blogspot.com/2010/07/chord-kord-kunci-gitar-opick-ft-amanda_28.html

1. KOSONG (cat.pri)

sumber foto: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/37/Empty_book.jpg

Kosong, semuanya kosong. Tak berbentuk dan tak berwujud. Lebih baik begini, menjadi serba misterius. Ada yang bilang: paksakan saja, toh semua juga hasil dari sebuah pemaksaan, lama kelamaan pasti akan terbiasa!. Kok sadis sepertinya. Tidak adakah yang lain dari pada dipaksakan? Jadi nantinya jadinya, ya.... hasil dari pemaksaan tersebut. Akan seperti apa hasilnya, aku kepingin tahu. Bagus apa tidak? Menerawang jauh jadinya, pingin melihat yang belum jadi hasilnya. Menunggu masih lama lagi baru akan ketahuan. O, kosong lagi. Menjadi tak ada, tak berwujud dan tak berbentuk. Kosong
Setiap hari penuh dengan kekosongan. Kekosongan jiwa, batin, raga, komunikasi, penglihatan, angan dan lain sebagainya yang pasti jangan sampai kosong udara, mati jadinya. Ini apa yang dicari? Dicari, difikir dan direnungkan seketika itu ada tapi ketika mau bergerak, lari sekencang-kencangnya. Ku kejar malah bertambah cepat larinya dan menghilang bersama kepulan-kepulan asap knalpot. Hampa, sehampa kepalaku yang tanpa isi sama sekali. Ya sudahlah, semua bisa diatur. Kosong mau diisi apapun dia pasti akan diam saja, nrimo ing pangdum kata orang jawa. Yang terpenting aku yang isi, bukan orang lain, kamu atau siapapun itu. Hanya aku saja. Aku yang lebih tahu dan lebih berhak untuk mengisinya. Kamu semua harus ikhlas, mengerti?

AF. Kab. Malang 4 januari 2012. 4 Jan.
Jum PM 01 : 39

LUNTAS


Ingatkah kau akan beluntas? Daunnya hijau dan harum sekali baunya. Orang-orang yang bermasalah dengan bau badannya, dipaksakannya untuk memakannya sebagai lalapan atau sebagai jamu dengan madu yang banyak takarannya. Beluntas itu sekarang masih ada disudut Madrasah. Beluntas dulu begitu semerbaknya sebagai pagar hidup orang-orang didesa, sekarang sudah banyak digantikan oleh pagar-pagar besi berujung lancip bahkan ditambah las dengan gerigi-gerigi tajamnya. Jikalau kudongakkan kepalaku keluar, terlihatlah beluntas itu rimbun dan segar tampak daunnya.
Tapi pagi ini aku begitu terkejut, kemana semua daun-daunnya yang menghijau itu? Meranggas sepertinya. Tapi terlihat tangkainya seperti bekas terpotong clurit yang tumpul. Tangkainya terlihat pecah-pecah.  Ada yang telah memanennya secara kejam sekali tanpa meninggalkan daunnya yang hijau itu. Ada yang lagi bau sekali badannya sehingga memperlakukan beluntas itu dengan sedemikian kejamnya. Benarlah ia baik sekali untuk tubuh manusia,? menyegarkan proses keluarnya keringat sehingga berbau harum? tapi ya mbok disisakan sedikit untuk berfotosintesislah biar tidak mati agar selalu dapat tumbuh terus daunnya untuk melayani manusia. Ya, apa boleh buat semua serba terlanjur, semoga beluntas itu akan tetap hidup, walaupun aku tak pernah memanennya sama sekali.
Kenangan itu muncul akan indahnya beluntas waktu aku masih kecil. Mbokku sering membikinkan aku jamu dengan beluntas, la wong keringatku tidak bau, keringatku waktu aku masih kecil ya sudah jelas wangi. Tapi mbokku dengan sukarela dan sedikit memaksa membuatkan aku jamu itu. Pahit, pahit dan tidak enak sama sekali.
“Ini le, minum ini, enak kok....ayo...” sambil menyodorkan segelas kecil minuman berwarna kehijauan.
“Apa ini Mbok?”
“Ini luntas. Enak kok, manis.....cobalah”
Kucium aromanya. Aneh...
“Sepertinya pahit ya Mbok?”
“Gak kok, sudah Mbok kasih banyak gula. Gak pahit kok”
“Buat apa sih Mbok?”
“Biar wangi badanmu Le....”
Dengan amat terpaksa aku minum itu minuman yang ternyata terbuat dari daun luntas. Sekejap mataku mengerjap-kerjap kepahitan.
“Emangnya badanku gak wangi ya Mbok?”
“Wangi, wangi....”
“Tapi kenapa kok aku harus minum?”
“Ya biar tambah wangi aja le....biar tidak kecut kalau dicium orang”
“Kecut? Masak bauku kecut Mbok?”
“Hehehehehe.........”
“Gak bau kok Mbok”
“Heheheheh”
Mbokku hanya tertawa saja sambil mengunyah itu sirihnya.
Sekarang disamping kerjaku, diluar, pojok madrasah, tumbuh itu beluntas dengan segudang cerita masa lalunya melawan masa depan.

AF, Sepanjang Gondanglegi, kab. malang. 8 desember 2012
Am.07:38

....TENTANG BATU


kab. malang. desember 2012

Aku melihat, aku mendengar dan aku juga merasakan
Betapa berat rasanya kehidupan ini
Bagai memikul batu besar yang tiada tahu kapan jatuhnya
Selalu kubawa kesana kemari bingung mau ditaruh dimana

Semakin lama semakin capek juga pundakku
Tanpa aku mau berusaha mengurangi sedikit demi sedikit bongkah itu
“Hei! Semakin kusut saja wajahmu!” teriak suara itu
Aku cuma menyerigai saja, berlalu acuh .......

Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya
Tapi aku tak mau menyelesaikannya
Aku ingin tahu seberapa kuat pundakku
Menambah bongkah batu yang telah membongkokkan badanku