Tampilkan postingan dengan label PIDATO-KENAGAN-KU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PIDATO-KENAGAN-KU. Tampilkan semua postingan

SYAIR BUAT AYAH

cover depan
Penulis: ANDY FIRMANSYAH
Kategori: Kumpulan Cerpen
ISBN: 978-602-225-719-6
Terbit: Agustus 2013
Halaman : 266, BW : 266, Warna : 0
Harga: Rp. 51.900,00

cover depan belakang

Deskripsi:

Syair buat Ayah, merupakan kumpulan dari cerita pendek, esai, pantun, dan pidato... yang mana di dalamnya dipersilakan para pembaca untuk memberikan penafsirannya sendiri perihal apa yang dapat ditangkap dari deretan kata-kata yang tidak beraturan ini. Terasa sulit sekali saya untuk memilah golongan apa tulisan yang masuk ini, pada ranah berbagai macam pemunculan karakter-karakter yang ingin saya ungkapkan. Saya memang agak kesulitan dengan memberi penekanan, bahwa cerita pendek pada masing-masing bab ingin memberi pesan tentang karakter religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan masih banyak karakter lainnya yang tidak dapat saya ungkapkan karena terlalu universalnya. Marilah semua ikut merenungkannya agar dapat semua diambil hikmah walaupun masih banyak kekurangan yang ada. Minimal saya sudah berusaha untuk menyumbangkan semaksimal mungkin gejolak pikiran saya dalam hal tulis menulis ini yang masih jauh dari sempurna.


Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0819 0422 1928. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!! ^^v

Pidato III: Bakti kepada Orang Tua

Pidato III, hari senin upacara bendera dengan  kelas IX F
Senin, 06 February 2012
Tema: Karakter Siswa Islami

Bakti kepada Orang Tua

A’udubillah himinassyaitonirrojim
Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamualaikum Warohhmatullahiwabarokatuh………….
Segala puji bagi Alloh Tuhan semesta  alam.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad S.A.W dan keluarganya beserta seluruh  sahabatnya yang teramat sangat mulia.

Yang terhormat,
 Bapak Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang III
Yang terhormat,
 Bapak , Ibu guru, staf karyawan MTsN Malang III, beserta Bapak , Ibu guru PPL dari STIT
Dan anak-anakku sekalian
 yang saya cintai dan saya banggakan

Alhamdulillah, apa khabarnya anak-anak sekalian.......... ?
Ijinkanlah saya berucap satu dua tiga pantun untuk menyambut hari yang cerah ini…..

Manis-manis si gula jawa
Gula jawa manis rasanya
Jangan dulu bermain cinta
Kalau tidak tau artinya

Jangan lupa minum jamu
Jamu sehat cap orang tua
Rajin-rajinlah menuntut ilmu
Untuk bekal di hari tua

Jalan-jalan ke Yogyakarta
Jangan lupa beli celana
Jangan melawan orang tua
Agar kelak masuk surga

Bicara tentang orang tua, tak bisa lepas dari Ibu dan bapak. Di rumah, mereka adalah sebagai orang tua kandung kamu. Di Madrasah ini, ibu dan bapak guru inilah sebagai orang tua kamu yang kedua.

Nabi pernah bersabda, :

"Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua, dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua"

Ada sebuah cerita tentang orang tua
Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon apel yang amat besar. Seorang kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakanapel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya diaberistirahat lalu terlelap di perdu pohon apeltersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anaktersebut.
Masa berlalu… anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. “Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.” Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja itu.” Aku mahukan permainan. Aku perlukan wang untuk membelinya,” tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu berkata, ”
Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan.”
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih. Masa berlalu…Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa.
Pohon apel itu merasa gembira.”Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.”Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Maukah kau menolongku?” Tanya anak itu.”
Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kaubuatlah rumah daripadanya. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.
Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa.”Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.” Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Maukahkah kau menolongku?” Tanya lelaki itu.”
Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata pohon apel itu. Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudiannya pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu. Namun begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin dimakan usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu.”
Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nada pilu.”
Aku tidak mahu apelmu kerana aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mahu dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mahu batang pohonmu kerana aku tak mau belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu.”
Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohon apel itu.Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan.
Inti dari cerita ini adalah:
. Pohon apel yang dimaksudkan didalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapa kita. Bila kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka.Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka,dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup.
Kalian  mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini melayani ibu bapa mereka.  Hargailah jasa ibu bapa kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa menyambut hari ibu dan hari bapa setiap tahun.
hati gembira bersama teman, bersuka ria di bawah jembatan
jikalau kita diizinkan Tuhan, pasti bertemu dihari kemudian

Wassalamu’alaikum……..Warahmatullahi, wabarahkatuh!



Pidato II, upacara bendera, wali kelas VII D. Tanggal 14 januari 2008

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum, warahmatullahi…wabarakatuh!

Yth.

Bapak kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri malang III

Yang terhormat,

bapak ibu guru beserta staf karyawan MTsN Malang III

Dan anak-anak-ku,sekalian

yang saya cintai dan saya bangga-banggakan.

In…nalhamdalillah !,

Sesungguhnya segala puja dan puji hanyalah milik Allah saja

Allahu rabbul Al-Kabir…

Allah Sang Pemilik!,

selu….ruh Alam jagad raya ini

Mulai dari makhluk yang paling terkecil,

yang hanya bisa dilihat oleh mikroskop

Mereka semua adalah milik Allah,

dan mereka tunduk kepada Allah S.W.T.

Jadi, kalau yang kecil, yang gak kelihatan,

Ketika dia datang bisa menjadi sumber malapetaka penyakit bagi manusia saja tunduk kepada Allah

Bagaimana dengan kita ?……

Yang namanya manusia macam saya,

macam kita-kita ini,

Tunduk setunduk-tunduknya,

dan teramat sangat tunduk kepada Allah S.W.T.

Dan yang paling dicintai datang kesini adalah satu,

Karena sebutan Rasulullah di akhir hayatnya adalah UMMATI…..UMMATI.

Sabab kecintaan ini adalah meneruskan kecintaan dari Baginda Rasul,

Bahwa ini adalah umat-umat Nabi Muhammad S.A.W.

Anak-anak, minta satu….!,

Kelak di Yaumil akhir nanti, ketika semua orang di kumpulkan di padang Maqshar, bertelanjang bulat

Matahari itu dekat dengan kepala kita,

Tapi, telanjang bulatnya kita,

tidak membuat kita untuk memperhatikan satu sama lain

Karena kenapa ?, karena…,ketika itu..semua orang takjub! Dengan padang Maqshar,

Satu yang diminta, Semoga Allah S.W.T. bangkitkan kita

TAKTALIWA’I, SAYYIDINA MUHAMMADIN……

Berdiri, bersama, barisan Rasulullah Muhammad S.A.W.

itu yang terpenting

………..Alhamdulillah……Apa kabarnya anak-anak sekalian?……..

Spenggal puisi indah menyebutkan

Bukan titik yang membuat tinta, melainkan tinta yang membuat titik.

Bukan cantik yang membuat cinta, melainkan cinta yang membuat cantik”

Cung ngacung siapa yang lagi jatuh cinta?………….

Baiklah anak-anak,

Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti

Kita harus mempunyai kekuatan untuk menghadapi segala macam resikonya

Kekuatan macam apa itu?….salah satunya adalah ……menyanyi

Ada satu kisah yang menarik,

Pada suatu ketika, di sebuah kamp konsentrasi atau penjara, Hiduplah seorang tahanan, yang meskipun ia telah dijatuhi hukuman mati, tapi ia tetap tidak merasa takut, sebaliknya, ia malah tetap merasa merdeka.

Pada suatu hari, ia tampak sedang bermain gitar di tengah lapangan penjara.

Sejumlah besar orang berkumpul di sekelilingnya untuk mendengarkan alunan musik yang ia mainkan, sehingga dibawah pengaruh musik tersebut, semua orang menjadi tidak merasa takut.

Ketika para pembesar-pembesar penjara mengetahui hal ini, mereka pun melarang orang itu untuk bermain gitar.

Akan tetapi, pada hari berikutnya, orang tersebut kembali lagi ketempat yang sama, bernyanyi dan bermain gitar dengan orang-orang yang jumlahnya lebih besar lagi. Ketika mengetahui hal itu, dengan marah para penjaga menyeret orang itu dan kemudian memotong jari-jari tangannya.

Hari berikutnya, ia kembali lagi. Bernyanyi dan memainkan musik sedapat-dapatnya dengan jari-jarinya yang berdarah. Kali ini orang-orang yang dating di sekelilingnya bersorak-sorai Beberapa penjagapun akhirnya menjadi berang, dan kemudian ia menyeretnya lagi serta membanting gitarnya hingga hancur berantakan.

Pada hari berikutnya, ia bernyanyi dengan segenap hatinya. Nyanyian yang sangat indah, tanpa alunan sebuah musik. Begitu merdu dan menyentuh hati, membuat semua orang ingin bergabung dan ikut bernyanyi bersama-sama dengan hati. Selama mereka bernyanyi dengan hati, mereka menjadi begitu jernih seperti hatinya. Jiwa mereka tidak dapat ditakhlukkan seperti jiwanya yang tetap merdeka.

Kali ini para penjaga benar-benar begitu sangat marah, mereka pun akhirnya memotong lidah orang tersebut! Keheningan pun kini meliputi seluruh penjara.

Semua heran, ketika pada hari berikutnya, ia kembali lagi ke tempat yang sama. Sambil berlenggang dan menari di ikuti oleh musik yang tidak dapat didengar oleh orang lain, kecuali oleh dirinya sendiri. Segera saja semua orang saling bergandengan tangan, menari di sekitar tubuhnya yang berdarah dan hancur.

Sementara itu para penjaga berdiri terpaku penuh kekaguman.

Dari sini dapat kita ambil hikmahnya, bahwa menyanyi sungguh merupakan aktivitas sederhana yang memiliki kekuatan yang besar untuk diri sendiri maupun mereka yang mendengarkannya. Menyanyi akan mengantarkan aliran antusiasme yang akan membangkitkan semangat hidup. Sejak kecil manusia telah belajar menyanyi. Para ahli mengatakan bahwa tangisan bayi sebagian besar merupakan nyanyiannya sendiri. Ketika masih kanak-kanak, maka sebagian besar aktivitas kelompok bermain (playgroup) maupun taman kanak-kanak adalah menyanyi. Demikianlah dengan remaja, mereka dapat hanyut dan terbawa emosi serta ikut bernyanyi bersama-sama dalam suatu konser musik.

Ibunda tercinta pernah mengilustrasikan bahwa burung- burung tidak pernah bersedih hanya karena setiap hari mereka bernyanyi. Bahkan tindakan pertama yang dilakukan para burung ketika bangun tidur adalah bernyanyi. Begitu mudahnya untuk menyanyi, namun perlu perjuangan yang keras untuk mau menyanyi. Mari kita menyanyi selagi masih ada kesempatan untuk hal tersebut.

“Kita menyanyi bukan karena bahagia, kita bahagia karena kita menyanyi”.

Mari kita mulai hari yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian ini dengan nyanyian optimisme ini dan penuh harapan. Selamat bernyanyi anak-anak.

Pak andy al-fakir, al-dlo”if ilallah, miskin ilmu, kurang amal, gak sempurna dalam ibadah, bahkan miskin pahala mohon maaf yang segala-galanya. Taqabbalallohumina waminkum, taqabbalya karim. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Pidato I, hari senin upacara bendera wali kelas VII B

tanggal, lupa, bulan, lupa, taon 2007

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamualaikum Warohhmatullahiwabarokatuh………….

Ashaduanla Illahailallah,

Waashaduanna Muhammadarrosulullah

Ama ba’du

Yang terhormat,

Bapak Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang III

Yang terhormat,

Bapak , Ibu guru, beserta staf karyawan MTsN Malang III

Dan anak-anakku sekalian

yang saya cintai dan saya sayangi

Segala puji bagi Alloh S.W.T, Robb seluruh alam.

Dzat yang maha pengasih lagi maha penyayang , Dzat yang menguasai hari kemudian.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh S.W.T ,

Tuhan bagi orang-orang terdahulu, hingga orang yang terlahir kemudian

Dzat yang menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi ,

yang telah diutus menjadi rahmatan lil ‘alamin,

Baginda Rasulullah Muhammad S.A.W,

Rasul penutup dan semoga Alloh S.W.T melimpahkan kesejahteraan kepada beliau, keluarga, seluruh sahabat, serta setiap orang yang meniti petunjuk dan mengikuti teladannya hingga akhir hari kiamat nanti.

Alhamdulillah, apa khabarnya anak-anakku sekalian?……….

Katanya orang itu, akan ada pengorbanan kalau ada yang namanya …..cinta…

Cuman, kalau seumur kalian ini, cintanya ada cinta monyet….cinta beruk…..cinta babon…………

Baiklah anak-anak, kalian datang kesini, datang ke madrasah ini, intinya adalah untuk mencari ilmu agar kelak nanti ketika kalian dewasa bisa menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.

Tahu tarzan…….tarzan hidup di hutan belantara, gak pakai ransel, gak bawa dompet,…..ceria!….,karena tahu ilmu hidup di hutan belantara. Kita hidup di dunia, gak tahu ilmunya….ah…stress lah.

Nabi pernah bersabda,

“Kalau ingin dunia, wajib baginya pakai ilmu. Kalau ingin akhirat wajib baginya pakai ilmu. Ingin dunia akhirat, wajib baginya pakai ilmu”.

Ingat teori mobil,

cet…….brum,..cet ..brum, duh…… ,kok gak hidup-hidup, eh… Tuh ada montir. Mas sini mas,

Ada apa bu?

Ini bil mobil kok gak mau hidup,

Sebentar bu, tok…….brum brum brum brum brum……..m..m…m..

Eh si mas, masak li sekali pukul langsung hidup, berapa mas?

Lima puluh ribu,

Hah si mas, kok hal mahal amat si mas, masak li sekali pukul ma puluh ribu

Pukulnya sich, lima ratus bu…….tapi ilmunya empat puluh sembilan ribu lima ratus……coba dipukul ama palu sampai penyok, kalau gak pakai ilmu, pasti mobil gak akan hidup.

Ada sebuah cerita agar kalian tidak sering bolos lagi,

Pada jaman dahulu, ada seorang laki-laki sedang berjalan di sebuah daerah yang tidak dikenalnya. Ia terus berjalan ketika tiba-tiba ia mulai cemas dan mulai khawatir kalau-kalau ia salah jalan.

Mendadak, dia terkejut melihat seorang laki-laki sangat-sangat-sangat tua sedang duduk bersandar pada sebatang pohon. Kedua tangannya berlipat dan kepalanya terkulai diatas tangan.Rambut putih lelaki tua itu berkilau memantulkan sinar matahari. Si pengembara yang terkejut itu berlari menemuinya dan bertanya, “ Maaf, permisi, apakah anda baik-baik saja?” Lelaki tua itu tidak bergerak ataupun menjawab. Si pengembara berlutut dan menyentuh bahu lelaki tua tersebut sambil bertanya lagi, “Permisi, apakah anda tidak apa-apa?” Lagi-lagi dia tidak mendapatkan jawaban. Si pengembara berdiri dan berniat melanjutkan perjalanan, ketika tiba-tiba kepala lelaki tua itu terangkat dan matanya terbuka lebar. Dengan suara lemah dan terpatah-patah, lelaki tua itu berkata, “teruslah berjalan; kau berada di jalan yang benar. Sebelum menyeberangi sungai, kumpulkan apa yang kau temukan di sana sebanyak banyaknya, kiarena kau tidak akan pernah bias kembali.” Matanya tertutup dan kepalanya kembali di sandarkan pada tangannya.

Si pengembara menunggu, kemudian akhirnya berbalik dan melanjutkan perjalanannya di bawah sengatan matahari, sambil berkata pada dirinya sendiri bahwa lelaki tua itu mungkin gila. Kemudian dia memikirkan perkataan lelaki tua itu dan tertawa sendiri, “Mungkin sungainya juga tidak ada!”

Si pengembara berjalan terus dan akhirnya sampailah dia di kaki sebuah bukit besar. Ketika dia mencapai puncaknya, dia melihat sebuah sungai besar yang indah mengalir berlahan di balik bukit. Dengan bersemangat dia berlari menuruni bukit dan meloncat ke dalam air yang sejuk. Dia menari-nari sambil mencipratkan air ke atas sehingga membasahi seluruh tubuhnya. Tiba-tiba ia tertegun, suara lelaki itu terngiang kembali di telinganya, “Sebelum menyeberangi sungai kumpulkan apa yang kau temukan di sana sebanyak-banyaknya karena kau tidak akan pernah bisa kembali.”

Si pengembara itu mencari-cari ke sekelilingnya tetapi tidak melihat apa pun kecuali ranting, bebatuan, dan rerumputan biasa. Dia berpikir, “Satu-satunya yang bias kukumpulkan adalah batu-batu ini, tetapi untuk apa ? Untuk menghalau binatang bua, ah rasany atidak mungkin. “ Tapi dia membungkuk juga untuk mengumpulkan beberapa buah batu dan mengantonginya. Kemudian dia berbalik untuk menyeberangi sungai, tetapi dia berhenti lagi dan berpikir, “ Ini hal paling gila yang pernah kulakukan.” Kemudian dia pun menyeberangi sungai.

Langit menjadi gelap, dan pengembaraitu kelelahan, ehingga dia memutukan untuk menghentikan perjalanannya dan mendirikan sebuah tenda kecil. Dengan cepat dia tertidur. Menjelang tengah malam , mendadak dia terbangun dan berdiri. Dia menatap bulan purnama yang menerangi langit. Dia menjadi marah saat menyadari apa yang membangunkannya. Batu-batu dalam kantongnyalah yang mengganjal tubuhnya. Dia mengeluarkan segenggam batu itu dan menyingkirkannya. Sinar bulan memantul pada batu-batu itu. Ternyata batu itu berubah menjadi intan permata yang tak ternilai harganya! Si pengembara merasa menyesal. “ Andai saja aku mengunpulkan lebih banyak sebelum menyeberangi sungai tadi.” Pikirnya.

Madrasah ini seperti tepian sungai yang penuh batu-batu berserakan yang mungkin akan menjadi permata jika kalian mengambilnya. Seperti lelaki tua yang tidak bisa memaksa si pengembara batu sebanyak-banyaknya, bapak juga tidak dapat memaksa kalian mengumpulkan ilmu yang ditawarkan disini. Tidak juga orang lain. Tetapi, bapak dapat dan akan mendorong kalian untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin sebelum kalian menyeberangi sungai karena kalian tidak akan pernah bisa kembali ke saat ini.

Bila ada sumur di ladang boleh saya menumpang mandi

Tapi kalau saya sedang mandi……..tolong jangan di intipin

Wassalamu’alaikum……..Warahmatullahi, wabarahkatuh!