Disuatu pagi ketika Sang Surya beranjak naik, aku melihat seorang laki-laki yang berjalan lewat di depan rumahku.
Saat itu dia tersenyum kepadaku, aku tak tau mengapa, rasanya hati ini mulai berdebar. Ada apakah dengan dia ? dan ada apakah dengan hatiku ini ? hatiku langsung tergugah merasa ada yang aneh dari senyumannya yang manis itu dan tatapannya yang semakin membuat hatiku tak menentu. Aku langsung berkemas lalu pergi kesekolah tepatnya saat itu pertama aku masuk sekolah karena libur yang begitu panjang.
Tak disangka aku bertemunya di depan halaman sekolahku. Mengapa?mengapa dia terus saja membayangiku. Apa dia juga bersekolah disini?. Ternyata memang benar dia bersekolah di sekolahku itu , tapi sayang dia jarang masuk sekolah karena ada hal yang mungkin belum ku mengerti sama sekali .
Aku mulai mengikutinya, saat bel sekolah belum berbunyi, Aku Melihatnya masuk ke ruang kelas 9
Beltelahberbunyi kemudian aku , masuk ke ruang kelasku. Aku mulai mengikuti pelajaran dengan baik tapi hatiku masih gelisah . Usai pelajaran berlangsung, aku beristirahat bersama seorang temanku. Aku pergi ke kantin dan tak disangka lagi aku melihat laki-laki itu dari kejauhan berdiri di belakang kamar mandi yang sudah tak pernah di pakai lagi. Dengan wajah yang putih pucat ,hatiku terus ingin tahu dan bertanya tanya Siapa sih laki-laki yang terus membayangiku itu?
Dalam hatiku bertanya tanya lagi . Hingga akhirnya fakta terungkap dan terbongkar bahwa ia adalah murid 1 tahun yang lalu. Siapakah sebenarnya laki-laki itu hingga membuat hatiku ingin tahu dan membuatku jadi penasaran semua mulai terungkap saat 3hari kemudian tepatnya saat aku duduk di bangku kelas 3, Ketika seorang tukang kebun di sekolahku bercerita bahwa laki-laki yang aku sebut-sebut itu memang sudah lama tiada karena ironisnya ia memang pernah di hukum dan akhirnya ia putus asa dan Bunuh Diri di belakang kamar mandi yang sudah lama tak di pakai itu .aku menyesal telah menyimpan rasa padanya karena sebelum jasadnya di temukan3 hari yang lalu.Dia terus membayangiku karena aku pernah lewat dan bercanda dibelakang kamar mandi yang sudah lama tak terpakai itu. Akhirnya jasad segera di otopsi saat itu juga hingga bau busuk masih menyengat di sekitar depan kamar mandi yang masih banyak siswa yang melihat kejadian itu. Dugaan ku hari inimemang benaradanya dan firasat ku yang selama ini membuatku penasaran hingga akhirnya berubah seketika dengan adanya temuan mayat yang mengejutkan di balik kamar mandi berdarah itu hingga akhirnya menjadikan aku paranoid jika aku melewati kamar mandi berdarah itu. Akhirnya hari demi hari tak terasa aku lewati sampai saat ini aku telah lulus sekolah . Dari situlah aku mulai memahami kenangan pahit pertama yang tak pernah terlupakan. Hingga jangan sampai terjadi untuk yang ke2 kalinya pada diriku.
Bibi Yusnia: ”Soalnya ... sapu tangan Bibi kemarin ketinggalan di sini,” (Bibi Yusnia
Buka rahasia dibarengi senyuman manis).
Emi: ”Huuu,” (menjebikkan bibir).
Ia kecewa, ternyata kedatanga Bibi Yusnia hanya untuk sebuah sapu tangan!
Bibi Yusnia: ”Hu apa?” (sambil menahan senyum dan mendorong kening Emi). Sapu
Tangan Bibi itu mengandung nilai kasih sayang. Kasih sayang itu mahal
Harganya, lo ...! ketimbang Bibi kehilangan sapu tangan itu lebih baik
Kehilangan uang satu juta....!
Emi tertawa namun sejenak saja. Lalu ia termenung-menung seperti berfikir.
Bibi Yusnia: ”Kok jadi bengong ?” (usik Bibi Yusnia). ”Mau tahu siapa yang memberikan sapu tanganItu ?” (celotehnya tanpa diminta).
”Sssst.... calon om kamu. Hihi... pacar Bibi, gitu.”
Esok paginya di sekolah, Emi, Lili dan Lisa melihat Lilia masih sedih juga, Emi tahu pasti, tentunya Ibu Lilia marah lagi daaan... marah lagi !
Emi: Teman – teman aku tahu kenapa Lilia dimarahi ibunya gara – gara jam tangan kesayangan ibunya hilang !
Lisa: Kenapa...?
Lili: Emang kenapa Em ?
Emi: Kemarin bibiku datang ke rumahku, padahal beliau biasanya bekunjung ke rumahku setiap satu bulan sekali. Nah kemarin itu bibi tiba – tiba datang ke rumaahku padahal kemarin bibi baru saja berkunjung. Ternyata sapu tangan pemberian calon suami bibi tertinggal di rumahku. Kata bibi, sapu tangan itu mengandung nilai kasih sayang. Bibi juga berkata ” kasih sayang itu mahal harganya lo ! ” ucap Emi menirukan ucapan bibinya.
Lili: Wah hebat juga kamu Em !
Emi: Siapa dulu dong...! emi gitu lo...
Lisa: Kalau gitu ayo kita bilang berita gembira ini ke Lilia !
Setelah beberapa saat mereka mencari Lilia....
Lili, Lisa, Emi: Lilia........! Emi punya berita bagus buat kamu...!
Emi: ”Aku tahu mengapa Ibumu marah melulu atas hilangnya jam tangan itu,”
(ujar Emi).
Lilia: ”Karena jam tangan itu bagus sekali ?” (Lilia menoleh, suaranya datar
Tanpa semangat).
Emi: ”Itu salah satunya. Tapi yang penting, jam tangan itu mengandung nilai kasih sayang. Kasih sayng itu mahal harganya, lo!” (ujar Emi menirukan Bibi Yusnia).
Mata Lilia mengerjap-ngerjap, ia mencoba merenungkan kata-kata Emi.
Lilia: ”Lalu aku harus bagaimana ?” (desah Lilia).
Emi mengerutkan kening dan angkat bahu.
Emi: ” Aduh aku jadi bingung.” (sambil garuk-garuk kepala).
Namun kabingungan itu terpecah siang harinya. Ada kejutan tak terduga bagi Lilia. Lilia menerima paket dari Amerika, dari om Dan. Isinya...jam tangan warna perak yang berpadu denagn warna keemasan, yang sama persis dengan milik Ibunya yang hilang. Ya, Lilia memang pernah mengatakan pada om Dan ingin memiliki jam tangan seperti milik Ibunya.
Lilia: ”Horeeeee!” (sambil melonjak lonjak, lupa dengan kesedihannya).
Lagi-lagi teman-temannya terkagum-kagum dengan jam tangan itu.
Lisa: ”Bagus, ya... bagus, ya.... seperti jam tangan artis.” (komentar Lisa).
Namun kegembiraan Lilia hanya sesaat. Ia teringat kembali dengan jam tangan Ibunya yang hilang. Ia terpaku seperti batu.
Lili: ”Heh,” (sambil menepuk bahunya).
Lilia terkejut
Emi: ”Kasihkan saja jam itu pada Ibumu. Katakan jam tangannya sudah ketemu, ternyata terselip di... yah, dimana, kek. Di lemari, di laci meja, di rak buku misalnya,” ujar Emi.
Lilia: (Menghela nafas panjang). Lalu,” itu juga yang sedang aku pikirkan, Em. Tapi ....”
Lilia menimang-nimang jam tangan itu dengan sayang. Sungguh berat rasanya memberikan jam tangan itu untuk Ibunya.
Lisa: ”Mengapa? ”usik Lisa
Lilia: ”Jam tangan ini diberikan Om Dan untukku. Jam tangan ini mengandung nilai kasih sayang.” (kata Lilia penuh perasaan).
Emi: ”Nah, kamu bisa merasakan sekarang, dari orang tersayang,” tukas Emi.
Lilia: ”Yaaaah ... apa boleh buat !” ujarnya.
Dan perlahan wajahnya berubah ceria.
Lilia: ”Aku cinta Ibu, aku mtak ingin membuat Ibu kecewa lama-lama. Nampaknya cinta itu membutuhkan pengorbanan, ya Em? (sambungnya senyum-senyum). Dan Emi pun turut tersenyum.
Sekian minggu sesudah itu, Lilia menerima surat dari Amerika. Memang, semuayang terjadi, Lilia ceritakan pada Om Dan lewat surat. Sekalian meminta maaf, bahwa ia sungguh tidak sengaja menghilangkan jam tangan Ibunya. Dan tak lupa Lilia minta dikirimi jam tangan lagi, karena jam tangan miliknya sudah diberikan pada ibunya sebagai ganti.
Emi, Lili, Lisa : ”Om-mu bilang apa, Lia?” (tanya Emi)
Lilia garuk-garuk kepala sambil menyodorkan surat itu pada Emi, Lili da Lisa. Lalu... Emi membacakan surat untuk Lilia dari Om Dan.............
Oke Lilia, Om Dan tak akan cerita pada Ibumu bahwa jam tangan Ibumu yang hilang sebenarnya tidak pernah ketemu. Tapi ...Untuk membelikanmu jam tangan lagi ... nanti dulu, deh. Setelah Om Dan pikir-pikir, nampaknya belum waktunya bagimu untuk memakai jam tangan sebagus itu, haha... Tapi jangan cemberut anak manis. Nanti bila Om Dan pulang , Lilia tetap akan Om Dan bawakan oleh-oleh. Yakni ...gantungan kunci.
Emi, Lisa dan Lili tidak bisa menahan tawa. Sembari memberikan kembali surat pada Lilia.
Emi: ”Gantungan kunci pun mengandung nilai kasih sayang. Kasih sayang itu mahal harganya lo! ”
Tak urung Lilia tertawa juga. Amat gembira.
Nasehat : ” semua benda yang kita miliki tentu mengandung nilai kasih sayang dari orang yang memberikan benda tersebut ataupun kita sedniri yang membelinya ! tentu barang yang kita beli adalah barang yang menarik hati sehingga kita menbelinya dan dengan kasih sayang kita merawat benda tersebut ”
Tidak tahu dan entah kenapa aku kok sukanya hanya nonton film dan membaca. Karena mungkin 2 hal itulah yang sangat mudah sekali dalam mempraktekkannya. Akhirnya banyak sekali buku-buku yang kubeli.Pinginnya sih aku mau orang lain juga membaca apa yang buku2 telah aku baca......(maksa.com). Bukunya semakin banyak dan menumpuk, akhirnya sebagian ada yang di jual/di dol (dlm bhasa jawa) jadilah kolekdol, (Koleksi yang di Dol/di jual)
Disuatu pagi ketika Sang Surya beranjak naik, aku melihat seorang laki-laki yang berjalan lewat di depan rumahku.
Saat itu dia tersenyum kepadaku, aku tak tau mengapa, rasanya hati ini mulai berdebar. Ada apakah dengan dia ? dan ada apakah dengan hatiku ini ? hatiku langsung tergugah merasa ada yang aneh dari senyumannya yang manis itu dan tatapannya yang semakin membuat hatiku tak menentu. Aku langsung berkemas lalu pergi kesekolah tepatnya saat itu pertama aku masuk sekolah karena libur yang begitu panjang.
Tak disangka aku bertemunya di depan halaman sekolahku. Mengapa?mengapa dia terus saja membayangiku. Apa dia juga bersekolah disini?. Ternyata memang benar dia bersekolah di sekolahku itu , tapi sayang dia jarang masuk sekolah karena ada hal yang mungkin belum ku mengerti sama sekali .
Aku mulai mengikutinya, saat bel sekolah belum berbunyi, Aku Melihatnya masuk ke ruang kelas 9
Beltelahberbunyi kemudian aku , masuk ke ruang kelasku. Aku mulai mengikuti pelajaran dengan baik tapi hatiku masih gelisah . Usai pelajaran berlangsung, aku beristirahat bersama seorang temanku. Aku pergi ke kantin dan tak disangka lagi aku melihat laki-laki itu dari kejauhan berdiri di belakang kamar mandi yang sudah tak pernah di pakai lagi. Dengan wajah yang putih pucat ,hatiku terus ingin tahu dan bertanya tanya Siapa sih laki-laki yang terus membayangiku itu?
Dalam hatiku bertanya tanya lagi . Hingga akhirnya fakta terungkap dan terbongkar bahwa ia adalah murid 1 tahun yang lalu. Siapakah sebenarnya laki-laki itu hingga membuat hatiku ingin tahu dan membuatku jadi penasaran semua mulai terungkap saat 3hari kemudian tepatnya saat aku duduk di bangku kelas 3, Ketika seorang tukang kebun di sekolahku bercerita bahwa laki-laki yang aku sebut-sebut itu memang sudah lama tiada karena ironisnya ia memang pernah di hukum dan akhirnya ia putus asa dan Bunuh Diri di belakang kamar mandi yang sudah lama tak di pakai itu .aku menyesal telah menyimpan rasa padanya karena sebelum jasadnya di temukan3 hari yang lalu.Dia terus membayangiku karena aku pernah lewat dan bercanda dibelakang kamar mandi yang sudah lama tak terpakai itu. Akhirnya jasad segera di otopsi saat itu juga hingga bau busuk masih menyengat di sekitar depan kamar mandi yang masih banyak siswa yang melihat kejadian itu. Dugaan ku hari inimemang benaradanya dan firasat ku yang selama ini membuatku penasaran hingga akhirnya berubah seketika dengan adanya temuan mayat yang mengejutkan di balik kamar mandi berdarah itu hingga akhirnya menjadikan aku paranoid jika aku melewati kamar mandi berdarah itu. Akhirnya hari demi hari tak terasa aku lewati sampai saat ini aku telah lulus sekolah . Dari situlah aku mulai memahami kenangan pahit pertama yang tak pernah terlupakan. Hingga jangan sampai terjadi untuk yang ke2 kalinya pada diriku.
Bibi Yusnia: ”Soalnya ... sapu tangan Bibi kemarin ketinggalan di sini,” (Bibi Yusnia
Buka rahasia dibarengi senyuman manis).
Emi: ”Huuu,” (menjebikkan bibir).
Ia kecewa, ternyata kedatanga Bibi Yusnia hanya untuk sebuah sapu tangan!
Bibi Yusnia: ”Hu apa?” (sambil menahan senyum dan mendorong kening Emi). Sapu
Tangan Bibi itu mengandung nilai kasih sayang. Kasih sayang itu mahal
Harganya, lo ...! ketimbang Bibi kehilangan sapu tangan itu lebih baik
Kehilangan uang satu juta....!
Emi tertawa namun sejenak saja. Lalu ia termenung-menung seperti berfikir.
Bibi Yusnia: ”Kok jadi bengong ?” (usik Bibi Yusnia). ”Mau tahu siapa yang memberikan sapu tanganItu ?” (celotehnya tanpa diminta).
”Sssst.... calon om kamu. Hihi... pacar Bibi, gitu.”
Esok paginya di sekolah, Emi, Lili dan Lisa melihat Lilia masih sedih juga, Emi tahu pasti, tentunya Ibu Lilia marah lagi daaan... marah lagi !
Emi: Teman – teman aku tahu kenapa Lilia dimarahi ibunya gara – gara jam tangan kesayangan ibunya hilang !
Lisa: Kenapa...?
Lili: Emang kenapa Em ?
Emi: Kemarin bibiku datang ke rumahku, padahal beliau biasanya bekunjung ke rumahku setiap satu bulan sekali. Nah kemarin itu bibi tiba – tiba datang ke rumaahku padahal kemarin bibi baru saja berkunjung. Ternyata sapu tangan pemberian calon suami bibi tertinggal di rumahku. Kata bibi, sapu tangan itu mengandung nilai kasih sayang. Bibi juga berkata ” kasih sayang itu mahal harganya lo ! ” ucap Emi menirukan ucapan bibinya.
Lili: Wah hebat juga kamu Em !
Emi: Siapa dulu dong...! emi gitu lo...
Lisa: Kalau gitu ayo kita bilang berita gembira ini ke Lilia !
Setelah beberapa saat mereka mencari Lilia....
Lili, Lisa, Emi: Lilia........! Emi punya berita bagus buat kamu...!
Emi: ”Aku tahu mengapa Ibumu marah melulu atas hilangnya jam tangan itu,”
(ujar Emi).
Lilia: ”Karena jam tangan itu bagus sekali ?” (Lilia menoleh, suaranya datar
Tanpa semangat).
Emi: ”Itu salah satunya. Tapi yang penting, jam tangan itu mengandung nilai kasih sayang. Kasih sayng itu mahal harganya, lo!” (ujar Emi menirukan Bibi Yusnia).
Mata Lilia mengerjap-ngerjap, ia mencoba merenungkan kata-kata Emi.
Lilia: ”Lalu aku harus bagaimana ?” (desah Lilia).
Emi mengerutkan kening dan angkat bahu.
Emi: ” Aduh aku jadi bingung.” (sambil garuk-garuk kepala).
Namun kabingungan itu terpecah siang harinya. Ada kejutan tak terduga bagi Lilia. Lilia menerima paket dari Amerika, dari om Dan. Isinya...jam tangan warna perak yang berpadu denagn warna keemasan, yang sama persis dengan milik Ibunya yang hilang. Ya, Lilia memang pernah mengatakan pada om Dan ingin memiliki jam tangan seperti milik Ibunya.
Lilia: ”Horeeeee!” (sambil melonjak lonjak, lupa dengan kesedihannya).
Lagi-lagi teman-temannya terkagum-kagum dengan jam tangan itu.
Lisa: ”Bagus, ya... bagus, ya.... seperti jam tangan artis.” (komentar Lisa).
Namun kegembiraan Lilia hanya sesaat. Ia teringat kembali dengan jam tangan Ibunya yang hilang. Ia terpaku seperti batu.
Lili: ”Heh,” (sambil menepuk bahunya).
Lilia terkejut
Emi: ”Kasihkan saja jam itu pada Ibumu. Katakan jam tangannya sudah ketemu, ternyata terselip di... yah, dimana, kek. Di lemari, di laci meja, di rak buku misalnya,” ujar Emi.
Lilia: (Menghela nafas panjang). Lalu,” itu juga yang sedang aku pikirkan, Em. Tapi ....”
Lilia menimang-nimang jam tangan itu dengan sayang. Sungguh berat rasanya memberikan jam tangan itu untuk Ibunya.
Lisa: ”Mengapa? ”usik Lisa
Lilia: ”Jam tangan ini diberikan Om Dan untukku. Jam tangan ini mengandung nilai kasih sayang.” (kata Lilia penuh perasaan).
Emi: ”Nah, kamu bisa merasakan sekarang, dari orang tersayang,” tukas Emi.
Lilia: ”Yaaaah ... apa boleh buat !” ujarnya.
Dan perlahan wajahnya berubah ceria.
Lilia: ”Aku cinta Ibu, aku mtak ingin membuat Ibu kecewa lama-lama. Nampaknya cinta itu membutuhkan pengorbanan, ya Em? (sambungnya senyum-senyum). Dan Emi pun turut tersenyum.
Sekian minggu sesudah itu, Lilia menerima surat dari Amerika. Memang, semuayang terjadi, Lilia ceritakan pada Om Dan lewat surat. Sekalian meminta maaf, bahwa ia sungguh tidak sengaja menghilangkan jam tangan Ibunya. Dan tak lupa Lilia minta dikirimi jam tangan lagi, karena jam tangan miliknya sudah diberikan pada ibunya sebagai ganti.
Emi, Lili, Lisa : ”Om-mu bilang apa, Lia?” (tanya Emi)
Lilia garuk-garuk kepala sambil menyodorkan surat itu pada Emi, Lili da Lisa. Lalu... Emi membacakan surat untuk Lilia dari Om Dan.............
Oke Lilia, Om Dan tak akan cerita pada Ibumu bahwa jam tangan Ibumu yang hilang sebenarnya tidak pernah ketemu. Tapi ...Untuk membelikanmu jam tangan lagi ... nanti dulu, deh. Setelah Om Dan pikir-pikir, nampaknya belum waktunya bagimu untuk memakai jam tangan sebagus itu, haha... Tapi jangan cemberut anak manis. Nanti bila Om Dan pulang , Lilia tetap akan Om Dan bawakan oleh-oleh. Yakni ...gantungan kunci.
Emi, Lisa dan Lili tidak bisa menahan tawa. Sembari memberikan kembali surat pada Lilia.
Emi: ”Gantungan kunci pun mengandung nilai kasih sayang. Kasih sayang itu mahal harganya lo! ”
Tak urung Lilia tertawa juga. Amat gembira.
Nasehat : ” semua benda yang kita miliki tentu mengandung nilai kasih sayang dari orang yang memberikan benda tersebut ataupun kita sedniri yang membelinya ! tentu barang yang kita beli adalah barang yang menarik hati sehingga kita menbelinya dan dengan kasih sayang kita merawat benda tersebut ”