Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan

SYAIR BUAT AYAH

cover depan
Penulis: ANDY FIRMANSYAH
Kategori: Kumpulan Cerpen
ISBN: 978-602-225-719-6
Terbit: Agustus 2013
Halaman : 266, BW : 266, Warna : 0
Harga: Rp. 51.900,00

cover depan belakang

Deskripsi:

Syair buat Ayah, merupakan kumpulan dari cerita pendek, esai, pantun, dan pidato... yang mana di dalamnya dipersilakan para pembaca untuk memberikan penafsirannya sendiri perihal apa yang dapat ditangkap dari deretan kata-kata yang tidak beraturan ini. Terasa sulit sekali saya untuk memilah golongan apa tulisan yang masuk ini, pada ranah berbagai macam pemunculan karakter-karakter yang ingin saya ungkapkan. Saya memang agak kesulitan dengan memberi penekanan, bahwa cerita pendek pada masing-masing bab ingin memberi pesan tentang karakter religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dan masih banyak karakter lainnya yang tidak dapat saya ungkapkan karena terlalu universalnya. Marilah semua ikut merenungkannya agar dapat semua diambil hikmah walaupun masih banyak kekurangan yang ada. Minimal saya sudah berusaha untuk menyumbangkan semaksimal mungkin gejolak pikiran saya dalam hal tulis menulis ini yang masih jauh dari sempurna.


Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0819 0422 1928. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!! ^^v

9. Laron


Laron-laron berterbangan didalam rumah di awal datangnya musim penghujan[1]. Sinar lampu putih mengundang mereka untuk bersama-sama menikmati sejuknya malam. Sepertinya, singkat benar umurnya. Hidupnya cuma semalam itu saja[2]. Kulihat yang barusan datang dari luar nampak energik sekali berterbangan menuju sumber cahaya[3]. Baik itu lampu ruangan tengah maupun cahaya nyala televisi. Setelah mereka terpuaskan dengan bermain cahaya itu, terbanglah mereka menuju kearahku. Merayap-rayap pada buku diariku. Mengepak-ngepakkan sayapnya kemudian terbang lagi menuju lampu, datang padaku lagi dan terakhir, merayap dilantai keramik yang berwarna putih. Terlihat sayap-sayapnya mulai rontok satu persatu ditinggalkan merayap tanpa sayap. Ndak tahu berkeliling mencari apa, yang jelas sudah bersiap semut-semut yang badannya berukuran separuh dari tubuh laron tersebut menganga mulutnya. Semut  itu mulai menyeret badan gemuk laron dengan suatu sebab, makan malam. Kulihat semut-semut itu datang bersama kawanannya sedang menyantap laron yang mati seperti kawanan macan berpesta pora dengan kijang atau kerbau hasil buruannya.
Tidak tahu kenapa laron begitu rela mengorbankan dirinya. Kupandangi dinding, juga nampak  tokek dan cicak merayap kesana-kemari tanpa susah payah berlari-lari pada dinding tembok. Laron dengan senang hati datang dengan sendirinya.
Malam ini memanglah pesta kecil-kecilan. Laron berpesta cahaya lampu yang menghangatkan. Semut berpesta bangkai laron yang gurih. Tak luput tokek dan cicak turut serta pula. Tapi bagaimana dengan aku? Apa aku juga akan berpesta pula?
Aku ingat dulu waktu kecil suka sekali makan laron disangrai[4], Cuma di kasih bumbu garam saja. Kumakan dengan lahapnya. Sekarang, aku sudah tidak pernah makan laron. Entah kenapa? Apakah memang sudah pernah? Atau apakah itu, yang pasti sudah tidak seperti waktu kecil dulu.
Laron, matursuwun[5] untuk pengorbananmu. Sayap-sayapmu menjadi saksi akan kotornya lantai rumahku. Lihatlah besok, pasti kotoran cicak dan tokek menambah harum aroma rumahku.

AF, Kab. Malang , 3 Desember 2012
PM. 10: 23


[1] Rayap Jantan dan Betina yang sudah matang dan memiliki saya akan keluar di awal musim penghujan. Sehingga kedatangan Laron sering dianggap sebagai pertanda awal musim penghujan.
[2] Sebenarnya Laron atau juga Rayap Dewasa tidak lah hidup satu malam. Laron adalah Rayap, dan tentunya dia telah hidup lama sebelum menjadi Laron. Laron yang mati adalah Laron yang tidak menemukan pasangannya akan mati saat fajar tiba. Sedangkan Laron yang menemukan pasangannya akan membentuk koloni baru dan Laron Betina atau Rayap Betina akan menjadi Ratu di Koloni baru nya.
[3] Pada awal musim penghujan, rayap yang telah dewasa (atau Laron) akan keluar dari sarang dan mencari pasangannya dengan berkumpul di sekitar sumber cahaya.
[4] Di ongseng maksudnya di masak dalam kuali/wajan dengan tidak pake minyak lalu di aduk-aduk terus, karena bila tidak diaduk masakan jadi tidak rata matangnya alias gosong.
[5] terimakasih

Bukan Pasar Malam



Harga: Rp.35.000 (blum ongkir)
Kondisi: Segel
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta, cet 9. oktober 2010
Tebal : 104 halaman.

Novel berupa roman ini merupakan salah satu karya dari penulis sastra terbesar di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Novel ini termasuk tipis, 104 halaman, bisa dibaca dalam waktu singkat namun maknanya sangatlah dalam.
Selain roman, isi dari novel ini juga bermakna hal religi, suatu yang mengingatkan kita akan kematian yang tak bisa dihindari. Serta perjuangan seorang gerilyawan (mantan gerilyawan) yang kecewa akan politik negerinya dan tetap memilih jalan hidupnya untuk mengabdi sebagai seorang guru.
Roman ini mengambil episode kira-kira pada masa revolusi dimana seorang pria paruh baya, menikah dan bekas tawanan yang tiba-tiba mendapat kabar bahwa ayahnya sakit keras. Terpaksa pria tersebut mengorbankan pekerjaannya demi menjenguk ayahnya yang tinggal di Blora, Jawa Tengah. Bersama istrinya beliau meninggalkan Jakarta menuju Blora dengan dihantui perasaan kuatir dan merasa bersalah kepada ayahnya di sepanjang perjalanan.
Sesampainya di Blora, diketahui bahwa ayahnya menderita TBC, penyakit yang sedang mewabah saat itu dan dipastikan menyebabkan kematian.
Dideskripsikan dengan sangat mendalam oleh sang penulis akan penderitaan ayahnya yang dirawat di Rumah Sakit. Kita pun dapat merasakan dan larut terbawa cerita yang singkat namun sangat menawan ini. Tentang silaturahmi sang pria – ‘aku’ sang tokoh utama – sebagai anak sulung terhadap saudaranya yang lama ditinggalkannya. Kasih sayang antara ayah dan anak, kasih sayang kakak terhadap adiknya yang selalu menangis setiap menjenguk ayahnya, rasa penyesalan akan sikap kasar – yang disampaikan via surat – sang pria terhadap ayahnya. Roman ini terus mengingatkan kita akan cinta dan kasih sayang antara orang tua yang sekarat dan anak-anaknya.
Salah satu kalimat menarik di dalam roman ini adalah “bila rumahnya rusak maka yang punya juga akan rusak”. Seakan mengingatkan kita bahwa kita juga harus terus memperbaiki lingkungan di sekitar kita – lingkungan tempat orang yang kita sayangi – karena merekalah kita ada dan tanpa mereka kita tak dapat hidup sendiri di dunia ini. Semuanya adalah lingkaran kehidupan, cinta antara keluarga tak akan ada habisnya, janganlah putuskan silaturahmi antara keluarga dan orang terdekat karena kita hidup saling bergantungan.
Rasa kecewa ‘rakyat biasa’ – yang sampai saat ini masih kita rasakan – tertuang pula dalam roman ini. Perihal sang ayah tidak segera tertolong untuk dirawat di tempat khusus penderita TBC (sanatorium) karena hal itu hanyalah harapan kosong biasa. Sanatorium saat itu hanyalah tersedia bagi kalangan pejabat. Padahal sang ayah pernah mendapat tawaran jadi wakil rakyat tapi ditolaknya karena menurutnya ‘perwakilan rakyat hanyalah panggung sandiwara’ (mungkin kalimat inilah salah satu penyebab mengapa roman ini dilarang terbit pada masa Orde Baru).
“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang…seperti dunia dalam pasar malam. “ (Pramoedya Ananta Toer).
Roman ini sangat menarik untuk dibaca. Selain dari segi sastra, roman ini juga bisa dikatakan berfungsi pula sebagai salah satu media psikologis dan agama. Dimana diingatkan kepada kita bahwa hidup di dunia tidak bisa disamakan dengan rekreasi di pasar malam, di mana kita bisa pergi dan pulang bareng-bareng untuk suatu hiburan. Kita lahir ke dunia dan pasti kembali kepada-Nya. Di dunia ini bersiaplah untuk dicabut nyawa kita – entah kapan – tapi pasti terjadi dan tidak dalam waktu bersamaan seperti kita berkunjung ke Pasar Malam. Yang belum dicabut nyawanya juga pasti cemas untuk menanti ‘gilirannya.’

SUMBER:  http://mbakarlin.wordpress.com/2010/02/03/bukan-pasar-malam/